Quote - Imam Syafi'I Bersama Ibunya
📙Yuk dibaca.....
Bismillahir Rohmaanir Rohiim
🍃Quote - Imam Syafi’i Bersama Ibunya🍃
Imam an-Nawawi pernah menceritakan bagaimana peran orangtua perempuan di belakang penguasaan Imam Syafi‘i terhadap fiqh. Ibu Imam Syafi’i adalah seorang wanita berkecerdasan tinggi tapi miskin. Namun bisa dikatakan kesetiaannya berada di belakang sang anak lah yang menjadikan Imam Syafi’i menjadi ilmuwan sejati hingga saat ini.
Di Mekkah, Imam Syafi ‘i dan ibunya tinggal di dekat Syi‘bu al-Khaif. Di sana, meski hidup tanpa suami, sang ibu telah sukses menerjemahkan visi jangka panjang untuk membawa nama harum sang anak ke hadapan Allahuta’ala. Sekalipun hidup dalam sebatang kara, hal itu tidak menghalangi sang ibu untuk menempatkan anaknya dalam kultur pendidikan agama yang terbaik di Mekkah.
Sang ibu sadar, ia tidak memiliki banyak uang, namun kecintaananya terhadap Allah dan buah hatinya, sang ibu meluluhkan hati sang guru untuk rela mengajar Imam Syafi’i meski tanpa bayaran.
Sekalipun hidup dalam kemiskinan, kecintaan Imam Syafi’i tak sama sekali membuatnya pantang menyerah dalam mencintai Islam dan menimba ilmu. Beliau sampai harus mengumpulkan pecahan tembikar, potongan kulit, pelepah kurma, dan tulang unta semata-mata demi kecintaannya dalam menulis Islam. Sampai-sampai tempayan-tempayan milik ibunya penuh dengan tulang-tulang, pecahan tembikar, dan pelepah kurma yang telah bertuliskan hadits-hadits Nabi.
Hingga pada usia sebelum beranjak ke 15 tahun, Imam Syafi’i menceritakan hasratnya kepada sang ibu yang sangat dikasihinya tentang sebuah keinginan seorang anak untuk menambah ilmu diluar Mekkah. Mulanya sang bunda menolak. Berat baginya melepaskan Syafi’i, dalam sebuah kondisi dimana beliau berharap kelak Imam Syafi’i tetap berada bersamanya untuk menjaganya di hari tua.
Namun demi ketaatan dan kecintaan Syafi’i kepada Ibundanya, maka mulanya beliau terpaksa membatalkan keinginannya itu. Meskipun demikian akhirnya sang ibunda mengizinkan Imam Syafi’i untuk memenuhi hajatnya untuk menambah Ilmu Pengetahuan ke luar kota.
Sebelum melepaskan Syafi’i berangkat, ibunda Imam Syafi’i menjatuhkan doa ditengah rasa haru orangtua kandung memiliki anak yang telah jatuh hati pada ilmu,
“Ya Allah Tuhan yang menguasai seluruh Alam! Anakku ini akan meninggalkan aku untuk berjalan jauh, menuju keridhaanMu. Aku rela melepaskannya untuk menuntut Ilmu Pengetahuan peninggalan Pesuruhmu. Oleh karena itu aku bermohon kepadaMu ya Allah permudahkanlah urusannya. Peliharakanlah keselamatanNya, panjangkanlah umurnya agar aku dapat melihat sepulangnya nanti dengan dada yang penuh dengan Ilmu Pengetahuan yang berguna, amin!”
Setelah usai berdo’a, sang ibu memeluk Syafi’i kecil dengan penuh kasih sayang bersama linangan air mata membanjiri jilbabnya. Ia sangat sedih betapa sang anak akan segera berpisah dengannya. Sambil mengelap air mata dari wajahnya, sang ibu berpesan,
“Pergilah anakku. Allah bersamamu. Insya-Allah engkau akan menjadi bintang Ilmu yang paling gemerlapan dikemudian hari. Pergilah sekarang karena ibu telah ridha melepasmu. Ingatlah bahwa Allah itulah sebaik-baik tempat untuk memohon perlindungan!” Subhanallah
Selepas mendengar doa itu, Imam Syafi’i mencium tangan sang ibu dan mengucapkan selamat tinggal kepada ibunya. Sambil meninggalkan wanita paling tegar dalam hidupnya itu, Imam Syafi’i melambaikan tangan mengucapkan salam perpisahan. Ia berharap ibundanya senantiasa mendo’akan untuk kesejahteraan dan keberhasilannya dalam menuntut Ilmu.
Imam Syafi’i tak sanggup menahan sedihnya, ia pergi dengan lelehan airmata membanjiri wajahnya. Wajah yang mengingatkan pada seorang ibu yang telah memolesnya menuju seorang bergelar ulama besar. Ya ulama besar yang akan kenang sampai kiamat menjelang.
Itulah peran yang ditopang seorang ibu yang selalu memasrahkan buah hatinya kepada Allah berserta kekuatan tauhid yang menyala-nyala. Inilah karakter sejati seorang ibu yang telah menyerahkan jiwa raga anaknya hanya kepada ilmu. Menyerahkan segala aktivitasnya dalam rangka pengabdian kepada Allah. Dari mulai ia melahirkan, mengasuhnya tanpa suami, membesarkannya.
Sumber : Silaturrahin Grup Lughatunaa Al-Lughatul 'Arabiyyah di whatsapp
Bismillahir Rohmaanir Rohiim
🍃Quote - Imam Syafi’i Bersama Ibunya🍃
Imam an-Nawawi pernah menceritakan bagaimana peran orangtua perempuan di belakang penguasaan Imam Syafi‘i terhadap fiqh. Ibu Imam Syafi’i adalah seorang wanita berkecerdasan tinggi tapi miskin. Namun bisa dikatakan kesetiaannya berada di belakang sang anak lah yang menjadikan Imam Syafi’i menjadi ilmuwan sejati hingga saat ini.
Di Mekkah, Imam Syafi ‘i dan ibunya tinggal di dekat Syi‘bu al-Khaif. Di sana, meski hidup tanpa suami, sang ibu telah sukses menerjemahkan visi jangka panjang untuk membawa nama harum sang anak ke hadapan Allahuta’ala. Sekalipun hidup dalam sebatang kara, hal itu tidak menghalangi sang ibu untuk menempatkan anaknya dalam kultur pendidikan agama yang terbaik di Mekkah.
Sang ibu sadar, ia tidak memiliki banyak uang, namun kecintaananya terhadap Allah dan buah hatinya, sang ibu meluluhkan hati sang guru untuk rela mengajar Imam Syafi’i meski tanpa bayaran.
Sekalipun hidup dalam kemiskinan, kecintaan Imam Syafi’i tak sama sekali membuatnya pantang menyerah dalam mencintai Islam dan menimba ilmu. Beliau sampai harus mengumpulkan pecahan tembikar, potongan kulit, pelepah kurma, dan tulang unta semata-mata demi kecintaannya dalam menulis Islam. Sampai-sampai tempayan-tempayan milik ibunya penuh dengan tulang-tulang, pecahan tembikar, dan pelepah kurma yang telah bertuliskan hadits-hadits Nabi.
Hingga pada usia sebelum beranjak ke 15 tahun, Imam Syafi’i menceritakan hasratnya kepada sang ibu yang sangat dikasihinya tentang sebuah keinginan seorang anak untuk menambah ilmu diluar Mekkah. Mulanya sang bunda menolak. Berat baginya melepaskan Syafi’i, dalam sebuah kondisi dimana beliau berharap kelak Imam Syafi’i tetap berada bersamanya untuk menjaganya di hari tua.
Namun demi ketaatan dan kecintaan Syafi’i kepada Ibundanya, maka mulanya beliau terpaksa membatalkan keinginannya itu. Meskipun demikian akhirnya sang ibunda mengizinkan Imam Syafi’i untuk memenuhi hajatnya untuk menambah Ilmu Pengetahuan ke luar kota.
Sebelum melepaskan Syafi’i berangkat, ibunda Imam Syafi’i menjatuhkan doa ditengah rasa haru orangtua kandung memiliki anak yang telah jatuh hati pada ilmu,
“Ya Allah Tuhan yang menguasai seluruh Alam! Anakku ini akan meninggalkan aku untuk berjalan jauh, menuju keridhaanMu. Aku rela melepaskannya untuk menuntut Ilmu Pengetahuan peninggalan Pesuruhmu. Oleh karena itu aku bermohon kepadaMu ya Allah permudahkanlah urusannya. Peliharakanlah keselamatanNya, panjangkanlah umurnya agar aku dapat melihat sepulangnya nanti dengan dada yang penuh dengan Ilmu Pengetahuan yang berguna, amin!”
Setelah usai berdo’a, sang ibu memeluk Syafi’i kecil dengan penuh kasih sayang bersama linangan air mata membanjiri jilbabnya. Ia sangat sedih betapa sang anak akan segera berpisah dengannya. Sambil mengelap air mata dari wajahnya, sang ibu berpesan,
“Pergilah anakku. Allah bersamamu. Insya-Allah engkau akan menjadi bintang Ilmu yang paling gemerlapan dikemudian hari. Pergilah sekarang karena ibu telah ridha melepasmu. Ingatlah bahwa Allah itulah sebaik-baik tempat untuk memohon perlindungan!” Subhanallah
Selepas mendengar doa itu, Imam Syafi’i mencium tangan sang ibu dan mengucapkan selamat tinggal kepada ibunya. Sambil meninggalkan wanita paling tegar dalam hidupnya itu, Imam Syafi’i melambaikan tangan mengucapkan salam perpisahan. Ia berharap ibundanya senantiasa mendo’akan untuk kesejahteraan dan keberhasilannya dalam menuntut Ilmu.
Imam Syafi’i tak sanggup menahan sedihnya, ia pergi dengan lelehan airmata membanjiri wajahnya. Wajah yang mengingatkan pada seorang ibu yang telah memolesnya menuju seorang bergelar ulama besar. Ya ulama besar yang akan kenang sampai kiamat menjelang.
Itulah peran yang ditopang seorang ibu yang selalu memasrahkan buah hatinya kepada Allah berserta kekuatan tauhid yang menyala-nyala. Inilah karakter sejati seorang ibu yang telah menyerahkan jiwa raga anaknya hanya kepada ilmu. Menyerahkan segala aktivitasnya dalam rangka pengabdian kepada Allah. Dari mulai ia melahirkan, mengasuhnya tanpa suami, membesarkannya.
Sumber : Silaturrahin Grup Lughatunaa Al-Lughatul 'Arabiyyah di whatsapp
Labels:
Cerita Motivasi
Kesempurnaan Dalam Hidup
Assalamu'alaikum wr. wb
KESEMPURNAAN DALAM HIDUP
Suatu hari,si fulan bertanya kepada gurunya:
"Bagaimana caranya agar kita mendapatkan sesuatu yang paling sempurna di dalam hidup..?"
......
Sang Guru :
"Berjalanlah 🚶 lurus di taman bunga, lalu petiklah bunga yang paling indahmenurutmu dan jangan pernah kembali kebelakang..!
Setelah berjalan dan sampai di ujung taman, si fulan kembali dengan tangan hampa, lalu Sang Guru bertanya :
"Mengapa kamu tidak mendapatkan bunga satu pun...???"
Fulan :
"Sebenarnya tadi aku sudah menemukannya, tapi aku tidak memetiknya, karena aku pikir mungkin yang di depan pasti ada yang lebih indah.
Namun ketika aku sudah sampai di ujung, aku baru sadar bahwa yang aku lihat tadi adalah yang TERINDAH, dan aku pun tak bisa kembali ke belakang lagi..!"
Sambil tersenyum, Sang Guru berkata :
"Ya, itulah hidup.. semakin kita mencari kesempurnaan, semakin pula kita tak akan pernah mendapatkannya.
Karena sejatinya kesempurnaan yang hakiki, hanyalah keikhlasan hati kita utk menerima kekurangan.."
• Bila tak kuasa memberi, jangan mengambil.
• Bila mengasihi terlalu sulit, jangan membenci.
• Bila tak mampu menghibur orang, jangan membuatnya sedih.
• Bila tak mungkin meringankan beban orang lain, jangan mempersulit/memberatkannya.
• Bila tak sanggup memuji, jangan menghujat.
• Bila tak bisa menghargai, jangan menghina.
"JANGAN MENCARI KESEMPURNAAN, tapi sempurnakanlah apa yg telah ada pada kita"...
Sumber :
Wassalamu'alaikum wr. wb
KESEMPURNAAN DALAM HIDUP
Suatu hari,si fulan bertanya kepada gurunya:
"Bagaimana caranya agar kita mendapatkan sesuatu yang paling sempurna di dalam hidup..?"
......
Sang Guru :
"Berjalanlah 🚶 lurus di taman bunga, lalu petiklah bunga yang paling indahmenurutmu dan jangan pernah kembali kebelakang..!
Setelah berjalan dan sampai di ujung taman, si fulan kembali dengan tangan hampa, lalu Sang Guru bertanya :
"Mengapa kamu tidak mendapatkan bunga satu pun...???"
Fulan :
"Sebenarnya tadi aku sudah menemukannya, tapi aku tidak memetiknya, karena aku pikir mungkin yang di depan pasti ada yang lebih indah.
Namun ketika aku sudah sampai di ujung, aku baru sadar bahwa yang aku lihat tadi adalah yang TERINDAH, dan aku pun tak bisa kembali ke belakang lagi..!"
Sambil tersenyum, Sang Guru berkata :
"Ya, itulah hidup.. semakin kita mencari kesempurnaan, semakin pula kita tak akan pernah mendapatkannya.
Karena sejatinya kesempurnaan yang hakiki, hanyalah keikhlasan hati kita utk menerima kekurangan.."
• Bila tak kuasa memberi, jangan mengambil.
• Bila mengasihi terlalu sulit, jangan membenci.
• Bila tak mampu menghibur orang, jangan membuatnya sedih.
• Bila tak mungkin meringankan beban orang lain, jangan mempersulit/memberatkannya.
• Bila tak sanggup memuji, jangan menghujat.
• Bila tak bisa menghargai, jangan menghina.
"JANGAN MENCARI KESEMPURNAAN, tapi sempurnakanlah apa yg telah ada pada kita"...
Sumber :
Wassalamu'alaikum wr. wb
Labels:
Mau'idhoh Hasanah
Dibalik Ketidaktahuan
ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻴﻜﻢ ﻭﺭﺣﻤﺔ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺑﺮﻛﺎﺗﻪ
DIBALIK KETIDAKTAHUAN
Nabi NUH belum tahu Banjir akan datang ketika
ia membuat Kapal dan ditertawai Kaumnya.
🐏 Nabi IBRAHIM belum tahu akan tersedia
Domba ketika Pisau nyaris memenggal Buah
hatinya.
🎋Nabi MUSA belum tahu Laut terbelah saat dia
diperintah memukulkan tongkatnya.
Yang Mereka Tahu adalah bahwa Mereka harus
Patuh pada Perintah ALLAH dan tanpa berhenti
Berharap
yang Terbaik...
Ternyata dibalik KETIDAKTAHUAN kita, ALLAH
telah menyiapkan Kejutan !
SERINGKALI Allah Berkehendak didetik-detik
terakhir dalam pengharapan dan ketaatan
hamba2NYA.
Jangan kita berkecil hati saat spertinya belum
ada jawaban doa...
Karena kadang Allah mencintai kita dengan
cara-cara yang kita tidak duga dan kita tidak
suka...
Allah memberikan apa yg kita butuhkan, bukan
apa yg kita Inginkan...!!!
Lakukan bagianmu saja, dan biarkan
Allah akan mengerjakan bagianNYA...
ALLAH tdk pernah menjanjikan bhw Langit itu
selalu Biru, Bunga selalu mekar & Mentari
selalu bersinar, Tapi ketahuilah bhw Dia selalu
memberi Pelangi di setiap Badai, Senyum di
setiap Air Mata, Berkah di setiap cobaan &
Jawaban di setiap Doa..
Tetaplah Percaya.
Tetaplah Berdoa.
Tetaplah Setia.
Tetaplah meraih RidhoNYA Aamiin ...
Semoga Bermanfaat dan Barokah ..
...Aamiin
DIBALIK KETIDAKTAHUAN
Nabi NUH belum tahu Banjir akan datang ketika
ia membuat Kapal dan ditertawai Kaumnya.
🐏 Nabi IBRAHIM belum tahu akan tersedia
Domba ketika Pisau nyaris memenggal Buah
hatinya.
🎋Nabi MUSA belum tahu Laut terbelah saat dia
diperintah memukulkan tongkatnya.
Yang Mereka Tahu adalah bahwa Mereka harus
Patuh pada Perintah ALLAH dan tanpa berhenti
Berharap
yang Terbaik...
Ternyata dibalik KETIDAKTAHUAN kita, ALLAH
telah menyiapkan Kejutan !
SERINGKALI Allah Berkehendak didetik-detik
terakhir dalam pengharapan dan ketaatan
hamba2NYA.
Jangan kita berkecil hati saat spertinya belum
ada jawaban doa...
Karena kadang Allah mencintai kita dengan
cara-cara yang kita tidak duga dan kita tidak
suka...
Allah memberikan apa yg kita butuhkan, bukan
apa yg kita Inginkan...!!!
Lakukan bagianmu saja, dan biarkan
Allah akan mengerjakan bagianNYA...
ALLAH tdk pernah menjanjikan bhw Langit itu
selalu Biru, Bunga selalu mekar & Mentari
selalu bersinar, Tapi ketahuilah bhw Dia selalu
memberi Pelangi di setiap Badai, Senyum di
setiap Air Mata, Berkah di setiap cobaan &
Jawaban di setiap Doa..
Tetaplah Percaya.
Tetaplah Berdoa.
Tetaplah Setia.
Tetaplah meraih RidhoNYA Aamiin ...
Semoga Bermanfaat dan Barokah ..
...Aamiin
Labels:
Mau'idhoh Hasanah
Kisah menyentuh banget - Telat Nikah
Cahaya Islam
Bismillah… Kisah Menyentuh Banget: ‘Telat
Nikah’
Aku sudah lulus dari kuliah dan sudah
mendapatkan pekerjaan yang bagus. Lamaran
kepada diriku untuk menikah juga mulai
berdatangan, akan tetapi aku tidak
mendapatkan seorangpun yang bisa
membuatku tertarik.
Kemudian kesibukan kerja dan karir
memalingkan aku dari segala hal yang lain.
Hingga aku sampai berumur 34 tahun.
Ketika itulah aku baru menyadari bagaimana
susahnya terlambat menikah. Pada suatu hari
datang seorang pemuda meminangku. Usianya
lebih tua dariku 2 tahun. Dia berasal dari
keluarga yang kurang mampu. Tapi aku ikhlas
menerima dirinya apa adanya.
Kami mulai menghitung rencana pernikahan.
Dia meminta kepadaku photo copy KTP untuk
pengurusan surat-surat pernikahan. Aku segera
menyerahkan itu kepadanya.
Setelah berlalu dua hari ibunya menghubungiku
melalui telepon. Beliau memintaku untuk
bertemu secepat mungkin.
Aku segera menemuinya. Tiba-tiba ia
mengeluarkan photo copyan KTPku. Dia
bertanya kepadaku apakah tanggal lahirku yang
ada di KTP itu benar?
Aku menjawab: Benar.
Lalu ia berkata: Jadi umurmu sudah mendekati
usia 40 tahun?!
Aku menjawab: Usiaku sekarang tepatnya 34
tahun.
Ibunya berkata lagi: Iya, sama saja.
Usiamu sudah lewat 30 tahun.
Itu artinya kesempatanmu untuk memiliki anak
sudah semakin tipis.
Sementara aku ingin sekali menimang cucu.
Dia tidak mau diam sampai ia mengakhiri
proses pinangan antara diriku dengan anaknya.
Masa-masa sulit itu berlalu sampai 6 bulan.
Akhirnya aku memutuskan untuk pergi
melaksanakan ibadah umrah bersama ayahku,
supaya aku bisa menyiram kesedihan dan
kekecewaanku di Baitullah.
Akupun pergi ke Mekah. Aku duduk menangis,
berlutut di depan Ka’bah. Aku memohon
kepada Allah supaya diberi jalan terbaik.
Setelah selesai shalat, aku melihat seorang
perempuan membaca al Qur’an dengan suara
yang sangat merdu.
Aku mendengarnya lagi mengulang-ulang ayat:
( ﻭﻛﺎﻥ ﻓﻀﻞ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻚ ﻋﻈﻴﻤﺎ)
“Dan karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu
itu sangat besar”. (An Nisa': 113)
Air mataku menetes dengan derasnya
mendengar lantunan ayat itu.
Tiba-tiba perempuan itu merangkulku ke
pangkuannya.
Dan ia mulai mengulang-ulang firman Allah:
( ﻭﻟﺴﻮﻑ ﻳﻌﻄﻴﻚ ﺭﺑﻚ ﻓﺘﺮﺿﻲ)
“Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti
memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga
engkau menjadi puas”. (Adh Dhuha: 5)
Demi Allah, seolah-olah aku baru kali itu
mendengar ayat itu seumur hidupku.
Pengaruhnya luar biasa, jiwaku menjadi tenang.
Setelah seluruh ritual umrah selesai, aku
kembali ke Cairo. Di pesawat aku duduk di
sebelah kiri ayahku, sementara disebelah kanan
beliau duduk seorang pemuda.
Sesampainya pesawat di bandara, akupun
turun. Di ruang tunggu aku bertemu suami
salah seorang temanku. Kami bertanya
kepadanya, dalam rangka apa ia datang ke
bandara?
Dia menjawab bahwa ia lagi menunggu
kedatangan temannya yang kembali dengan
pesawat yang sama dengan yang aku tumpangi.
Hanya beberapa saat, tiba-tiba temannya itu
datang. Ternyata ia adalah pemuda yang duduk
di kursi sebelah kanan ayahku tadi.
Selanjutnya aku berlalu dengan ayahku…..
Baru saja aku sampai di rumah dan ganti
pakaian, lagi asik-asik istirahat, temanku yang
suaminya tadi aku temui di bandara
menelphonku. Langsung saja ia mengatakan
bahwa teman suaminya yang tadi satu pesawat
denganku sangat tertarik kepada diriku. Dia
ingin bertemu denganku di rumah temanku
tersebut malam itu juga. Alasannya, kebaikan
itu perlu disegerakan.
Jantungku berdenyut sangat kencang akibat
kejutan yang tidak pernah aku bayangkan ini.
Lalu aku meminta pertimbangan ayahku
terhadap tawaran suami temanku itu. Beliau
menyemangatiku untuk mendatanginya. Boleh
jadi dengan cara itu Allah memberiku jalan
keluar.
Akhirnya…..aku pun datang berkunjung ke
rumah temanku itu. Hanya beberapa hari
setelah itu pemuda tadi sudah datang
melamarku secara resmi.
Dan hanya satu bulan setengah setelah
pertemuan itu kami betul-betul sudah menjadi
pasangan suami-istri.
Jantungku betul-betul mendenyutkan harapan
kebahagiaan.
Kehidupanku berkeluarga dimulai dengan
keoptimisan dan kebahagiaan. Aku
mendapatkan seorang suami yang betul-betul
sesuai dengan harapanku. Dia seorang yang
sangat baik, penuh cinta, lembut, dermawan,
punya akhlak yang subhanallah, ditambah lagi
keluarganya yang sangat baik dan terhormat.
Namun sudah beberapa bulan berlalu belum
juga ada tanda-tanda kehamilan pada diriku.
Perasaanku mulai diliputi kecemasan. Apalagi
usiaku waktu itu sudah memasuki 36 tahun.
Aku minta kepada suamiku untuk membawaku
memeriksakan diri kepada dokter ahli
kandungan. Aku khawatir kalau-kalau aku tidak
bisa hamil.
Kami pergi untuk periksa ke seorang dokter
yang sudah terkenal dan berpengalaman. Dia
minta kepadaku untuk cek darah.
Ketika kami menerima hasil cek darah, ia
berkata bahwa tidak ada perlunya aku
melanjutkan pemeriksaan berikutnya, karena
hasilnya sudah jelas. Langsung saja ia
mengucapkan “Selamat, anda hamil!”
Hari-hari kehamilanku pun berlalu dengan
selamat, sekalipun aku mengalami kesusahan
yang lebih dari orang biasanya. Barangkali
karena aku hamil di usia yang sudah agak
berumur.
Sepanjang kehamilanku, aku tidak punya
keinginan mengetahui jenis kelamin anak yang
aku kandung. Karena apapun yang dikaruniakan
Allah kepadaku semua adalah nikmat dan
karunia-Nya.
Setiap kali aku mengadukan bahwa rasanya
kandunganku ini terlalu besar, dokter itu
menjawab:
Itu karena kamu hamil di usia sudah sampai 36
tahun.
Selanjutnya datanglah hari-hari yang ditunggu,
hari saatnya melahirkan. Proses persalinan
secara caesar berjalan dengan lancar. Setelah
aku sadar, dokter masuk ke kamarku dengan
senyuman mengambang di wajahnya sambil
bertanya tentang jenis kelamin anak yang aku
harapkan. Aku menjawab bahwa aku hanya
mendambakan karunia Allah. Tidak penting
bagiku jenis kelaminnya. Laki-laki atau
perempuan akan aku sambut dengan beribu
syukur.
Aku dikagetkan dengan pernyataannya:
“Jadi bagaimana pendapatmu kalau kamu
memperoleh Hasan, Husen dan Fatimah
sekaligus?
Aku tidak paham apa gerangan yang ia
bicarakan. Dengan penuh penasaran aku
bertanya apa yang ia maksudkan?
Lalu ia menjawab sambil menenangkan ku
supaya jangan kaget dan histeris bahwa Allah
telah mengaruniaku 3 orang anak sekaligus. 2
orang laki-laki dan 1 orang perempuan.
Seolah-olah Allah berkeinginan memberiku 3
orang anak sekaligus untuk mengejar
ketinggalanku dan ketuaan umurku.
Sebenarnya dokter itu tahu kalau aku
mengandung anak kembar 3, tapi ia tidak ingin
menyampaikan hal itu kepadaku supaya aku
tidak merasa cemas menjalani masa-masa
kehamilanku.
Lantas aku menangis sambil mengulang-ulang
ayat Allah:
( ﻭﻟﺴﻮﻑ ﻳﻌﻄﻴﻚ ﺭﺑﻚ ﻓﺘﺮﺿﻰ)
“Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti
memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga
engkau menjadi puas”. (Adh Dhuha: 5)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
( ﻭﺍﺻﺒﺮ ﻟﺤﻜﻢ ﺭﺑﻚ ﻓﺈﻧﻚ ﺑﺄﻋﻴﻨﻨﺎ )
“Dan bersabarlah menunggu ketetapan
Tuhanmu, karena sesungguhnya engkau berada
dalam pengawasan Kami…” (Ath Thur: 48)
Bacalah ayat ini penuh tadabbur dan
penghayatan, terus berdoalah dengan hati
penuh yakin bahwa Allah tidak pernah dan tidak
akan pernah menelantarkanmu. Bila artikel ini
ada manfaatnya silahkan di-share. [Dikutip dari:
Cirebon Tanpa Pacaran]
Semoga kita semua mendapatkan pasangan
yang sholeh/sholehah dan menjadi keluarga
yang sakinah, mawadah, warahmah.
Bismillah… Kisah Menyentuh Banget: ‘Telat
Nikah’
Aku sudah lulus dari kuliah dan sudah
mendapatkan pekerjaan yang bagus. Lamaran
kepada diriku untuk menikah juga mulai
berdatangan, akan tetapi aku tidak
mendapatkan seorangpun yang bisa
membuatku tertarik.
Kemudian kesibukan kerja dan karir
memalingkan aku dari segala hal yang lain.
Hingga aku sampai berumur 34 tahun.
Ketika itulah aku baru menyadari bagaimana
susahnya terlambat menikah. Pada suatu hari
datang seorang pemuda meminangku. Usianya
lebih tua dariku 2 tahun. Dia berasal dari
keluarga yang kurang mampu. Tapi aku ikhlas
menerima dirinya apa adanya.
Kami mulai menghitung rencana pernikahan.
Dia meminta kepadaku photo copy KTP untuk
pengurusan surat-surat pernikahan. Aku segera
menyerahkan itu kepadanya.
Setelah berlalu dua hari ibunya menghubungiku
melalui telepon. Beliau memintaku untuk
bertemu secepat mungkin.
Aku segera menemuinya. Tiba-tiba ia
mengeluarkan photo copyan KTPku. Dia
bertanya kepadaku apakah tanggal lahirku yang
ada di KTP itu benar?
Aku menjawab: Benar.
Lalu ia berkata: Jadi umurmu sudah mendekati
usia 40 tahun?!
Aku menjawab: Usiaku sekarang tepatnya 34
tahun.
Ibunya berkata lagi: Iya, sama saja.
Usiamu sudah lewat 30 tahun.
Itu artinya kesempatanmu untuk memiliki anak
sudah semakin tipis.
Sementara aku ingin sekali menimang cucu.
Dia tidak mau diam sampai ia mengakhiri
proses pinangan antara diriku dengan anaknya.
Masa-masa sulit itu berlalu sampai 6 bulan.
Akhirnya aku memutuskan untuk pergi
melaksanakan ibadah umrah bersama ayahku,
supaya aku bisa menyiram kesedihan dan
kekecewaanku di Baitullah.
Akupun pergi ke Mekah. Aku duduk menangis,
berlutut di depan Ka’bah. Aku memohon
kepada Allah supaya diberi jalan terbaik.
Setelah selesai shalat, aku melihat seorang
perempuan membaca al Qur’an dengan suara
yang sangat merdu.
Aku mendengarnya lagi mengulang-ulang ayat:
( ﻭﻛﺎﻥ ﻓﻀﻞ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻚ ﻋﻈﻴﻤﺎ)
“Dan karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu
itu sangat besar”. (An Nisa': 113)
Air mataku menetes dengan derasnya
mendengar lantunan ayat itu.
Tiba-tiba perempuan itu merangkulku ke
pangkuannya.
Dan ia mulai mengulang-ulang firman Allah:
( ﻭﻟﺴﻮﻑ ﻳﻌﻄﻴﻚ ﺭﺑﻚ ﻓﺘﺮﺿﻲ)
“Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti
memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga
engkau menjadi puas”. (Adh Dhuha: 5)
Demi Allah, seolah-olah aku baru kali itu
mendengar ayat itu seumur hidupku.
Pengaruhnya luar biasa, jiwaku menjadi tenang.
Setelah seluruh ritual umrah selesai, aku
kembali ke Cairo. Di pesawat aku duduk di
sebelah kiri ayahku, sementara disebelah kanan
beliau duduk seorang pemuda.
Sesampainya pesawat di bandara, akupun
turun. Di ruang tunggu aku bertemu suami
salah seorang temanku. Kami bertanya
kepadanya, dalam rangka apa ia datang ke
bandara?
Dia menjawab bahwa ia lagi menunggu
kedatangan temannya yang kembali dengan
pesawat yang sama dengan yang aku tumpangi.
Hanya beberapa saat, tiba-tiba temannya itu
datang. Ternyata ia adalah pemuda yang duduk
di kursi sebelah kanan ayahku tadi.
Selanjutnya aku berlalu dengan ayahku…..
Baru saja aku sampai di rumah dan ganti
pakaian, lagi asik-asik istirahat, temanku yang
suaminya tadi aku temui di bandara
menelphonku. Langsung saja ia mengatakan
bahwa teman suaminya yang tadi satu pesawat
denganku sangat tertarik kepada diriku. Dia
ingin bertemu denganku di rumah temanku
tersebut malam itu juga. Alasannya, kebaikan
itu perlu disegerakan.
Jantungku berdenyut sangat kencang akibat
kejutan yang tidak pernah aku bayangkan ini.
Lalu aku meminta pertimbangan ayahku
terhadap tawaran suami temanku itu. Beliau
menyemangatiku untuk mendatanginya. Boleh
jadi dengan cara itu Allah memberiku jalan
keluar.
Akhirnya…..aku pun datang berkunjung ke
rumah temanku itu. Hanya beberapa hari
setelah itu pemuda tadi sudah datang
melamarku secara resmi.
Dan hanya satu bulan setengah setelah
pertemuan itu kami betul-betul sudah menjadi
pasangan suami-istri.
Jantungku betul-betul mendenyutkan harapan
kebahagiaan.
Kehidupanku berkeluarga dimulai dengan
keoptimisan dan kebahagiaan. Aku
mendapatkan seorang suami yang betul-betul
sesuai dengan harapanku. Dia seorang yang
sangat baik, penuh cinta, lembut, dermawan,
punya akhlak yang subhanallah, ditambah lagi
keluarganya yang sangat baik dan terhormat.
Namun sudah beberapa bulan berlalu belum
juga ada tanda-tanda kehamilan pada diriku.
Perasaanku mulai diliputi kecemasan. Apalagi
usiaku waktu itu sudah memasuki 36 tahun.
Aku minta kepada suamiku untuk membawaku
memeriksakan diri kepada dokter ahli
kandungan. Aku khawatir kalau-kalau aku tidak
bisa hamil.
Kami pergi untuk periksa ke seorang dokter
yang sudah terkenal dan berpengalaman. Dia
minta kepadaku untuk cek darah.
Ketika kami menerima hasil cek darah, ia
berkata bahwa tidak ada perlunya aku
melanjutkan pemeriksaan berikutnya, karena
hasilnya sudah jelas. Langsung saja ia
mengucapkan “Selamat, anda hamil!”
Hari-hari kehamilanku pun berlalu dengan
selamat, sekalipun aku mengalami kesusahan
yang lebih dari orang biasanya. Barangkali
karena aku hamil di usia yang sudah agak
berumur.
Sepanjang kehamilanku, aku tidak punya
keinginan mengetahui jenis kelamin anak yang
aku kandung. Karena apapun yang dikaruniakan
Allah kepadaku semua adalah nikmat dan
karunia-Nya.
Setiap kali aku mengadukan bahwa rasanya
kandunganku ini terlalu besar, dokter itu
menjawab:
Itu karena kamu hamil di usia sudah sampai 36
tahun.
Selanjutnya datanglah hari-hari yang ditunggu,
hari saatnya melahirkan. Proses persalinan
secara caesar berjalan dengan lancar. Setelah
aku sadar, dokter masuk ke kamarku dengan
senyuman mengambang di wajahnya sambil
bertanya tentang jenis kelamin anak yang aku
harapkan. Aku menjawab bahwa aku hanya
mendambakan karunia Allah. Tidak penting
bagiku jenis kelaminnya. Laki-laki atau
perempuan akan aku sambut dengan beribu
syukur.
Aku dikagetkan dengan pernyataannya:
“Jadi bagaimana pendapatmu kalau kamu
memperoleh Hasan, Husen dan Fatimah
sekaligus?
Aku tidak paham apa gerangan yang ia
bicarakan. Dengan penuh penasaran aku
bertanya apa yang ia maksudkan?
Lalu ia menjawab sambil menenangkan ku
supaya jangan kaget dan histeris bahwa Allah
telah mengaruniaku 3 orang anak sekaligus. 2
orang laki-laki dan 1 orang perempuan.
Seolah-olah Allah berkeinginan memberiku 3
orang anak sekaligus untuk mengejar
ketinggalanku dan ketuaan umurku.
Sebenarnya dokter itu tahu kalau aku
mengandung anak kembar 3, tapi ia tidak ingin
menyampaikan hal itu kepadaku supaya aku
tidak merasa cemas menjalani masa-masa
kehamilanku.
Lantas aku menangis sambil mengulang-ulang
ayat Allah:
( ﻭﻟﺴﻮﻑ ﻳﻌﻄﻴﻚ ﺭﺑﻚ ﻓﺘﺮﺿﻰ)
“Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti
memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga
engkau menjadi puas”. (Adh Dhuha: 5)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
( ﻭﺍﺻﺒﺮ ﻟﺤﻜﻢ ﺭﺑﻚ ﻓﺈﻧﻚ ﺑﺄﻋﻴﻨﻨﺎ )
“Dan bersabarlah menunggu ketetapan
Tuhanmu, karena sesungguhnya engkau berada
dalam pengawasan Kami…” (Ath Thur: 48)
Bacalah ayat ini penuh tadabbur dan
penghayatan, terus berdoalah dengan hati
penuh yakin bahwa Allah tidak pernah dan tidak
akan pernah menelantarkanmu. Bila artikel ini
ada manfaatnya silahkan di-share. [Dikutip dari:
Cirebon Tanpa Pacaran]
Semoga kita semua mendapatkan pasangan
yang sholeh/sholehah dan menjadi keluarga
yang sakinah, mawadah, warahmah.
Labels:
Cahaya Islam





